Tearful Crying Smiley
Rindu yang tak kunjung usai
20:07 | Author:
Mengingat dan membuka kembali kisah-kisah lembaran lama, membuatku tak mampu bicara. Waktu yang terus berlalu, membawa diri meriuh dalam suka dan duka. Menangis dan tertawa bersamamu. Seputih awan dilangit selalu menghiasi angkasa, sebening hatiku yang melepas hitam putih masa lalu. Hilang ... hilanglah sudah, terkubur membisu jauh didasar. Hatiku lepas, lepas semua masa lalu. Jadikan kenangan yang terindah.

Sejuta air mata tumpah ke pipi menjadi lautan kaca yang harus kurenangi. Dimana saat kau tinggalkanku, biar apapun menghalang jangan lah kau melupakan.

Inikah arti dari semua. Kau lepaskanku begitu saja. Sucikan segalanya kau lepas begitu saja. Disini aku yang bertarung sengsara, tak rela sedih berhimpit duka, berkaca hati merintih pecah tak terduga. Inginku meluluhkan segugus kesedihan. Kembalilah keindahan cahaya yang dulu bersema dikalbu selalu terbayang kenangan lalu saat kau berjanji setia dan tak ingin pisah dariku.

Senja menembus nafas dalam diri, jarak jauh serasa dalam kutukan. Adakah ruang bertaut sekian cahaya bertatap sekujur tubuh kita? Kau yang tak pernah begitu dekat dan aku yang jauh rindu yang teguh. Waktu terus berlalu, seiring langkahku yang coba melewati hari demi hari. Kadang aku tak mengerti semua yang terjadi. Semua saling merindukan dan saling kehilangan. 

Biarlah, aku mengenangmu disini. Diantara sunyi dan gelapnya malam. Karena saat-saat seperti ini membuatku selalu ingin bersamamu. Andai saat ini kau ada disisiku, ingin kugenggam erat jemarimu dan membisikkan seuntai kata manis, bahwa kau masih yang tersayang. Dan tetap yang kusayang. Beribu kali mencoba membencimu. Dalam lamunku selalu ada bayang. Dengan termanggu selalu kupikirkan. Tapi belum juga menemukan jawab. Walau harapan ini belum juga punah terbelenggu.

Kau adalah kosong, sementara aku adalah hampa. Kita sejalan memburu bayang-bayang semu. Kau adalah ragu, sementara aku adalah gelisah. Kita sejalan kalut mencari makna. Kau ada dimana saat diriku ini terbakar dalam pikiran? Kau ada dimana saat diriku ini gelisah menanti? Masih peduli kah, dengan semua kegelisahan yang setiap saat menjadi milikku. Apakah mampu ku sembunyikan rasa terbungkus sesak dalam diam ... 
This entry was posted on 20:07 and is filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: